Main Article Content

Abstract

Early marriage was a marriage conducted by a person under 18 years old. The age that was considered not to have the emotional maturity to live a household. This study aimed to determine the description of household problems and determined the effect of Islamic counseling to improve the emotional maturity of early marriage couples. This study used mix-method with experimental research. The subjects of this study were early married couples who married in 2016 in the KUA of Pakis District, Magelang, as many as 16 couples. The results showed that the problems that arose in early marriage were the economy, conflict with parents, adaptation to the environment, and household violence. Then the Wilcoxon analysis results showed that there was a significant difference in the emotional maturity level of married couples at an early age after Islamic Counseling

Keywords

Kematangan Emosi Konseling Islam Pernikahan Dini

Article Details

How to Cite
Syaefudin, A. (2020). Konseling Islam untuk Meningkatkan Kematangan Emosi bagi Pasangan Pernikahan Usia Dini. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 15(1), 46-53. https://doi.org/10.31603/cakrawala.v15i1.3445

References

  1. Adz-Dzaky, H. B. (2008). Konseling dan Psikoterapi Islam. Yogyakarta: Al-Manar.
  2. Andriani, D. (2016). Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Penyesuaian Perkawinan Pada Dewasa Awal. Universitas Syiah Kuala.
  3. Arifin, I. Z. (2009). Bimbingan Penyuluhan Islam. Jakarta: Rajawali Press.
  4. Azwar, S. (2010). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  5. Badan Pusat Statistik. (2012). Survei Sosial Ekonomi Nasional 2012. Jakarta.
  6. Kusuma, R. P. (2016). Hubungan Antara Kematangan Emosi Dan Happiness Pada Remaja Wanita Yang Menikah Muda. Universitas Gunadarma.
  7. Mahfudin, A., & Waqi’ah, K. (2016). Pernikahan Dini dan Pengaruhnya terhadap Keluarga di Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1(1), 33–49.
  8. Mariyani. (2018). Hubungan Kematangan Emosi dengan Penyesuaian Diri pada Masa Pernikahan Awal di Desa Wih Porak Kabupaten Bener Meriah. Universitas Medan Area.
  9. Mastur. (2015). Mencari Bentuk Konseling Islam Dalam Tradisi Sufisme. El-Hikam: Journal of Education and Religious Studies, 8(2), 421 — 442.
  10. Naimah, D. M. (2015). Pengaruh Kematangan Emosi Terhadap Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Usia Dewasa Tengah (Di Dusun Sumbersuko, Desa Kesilir - Siliragung - Banyuwangi). Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
  11. Purnawati, L. (2015). Dampak Perkawinan Usia Muda Terhadap Pola Asuh Keluarga (Studi di desa Talang Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung). Publiciana: Jurnal ilmu sosial dan ilmu politik, 8(1), 126–143.
  12. Rahayu, A. P., & Hamsia, W. (2018). Resiko Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) pada Pernikahan Usia Anak di Kawasan Marginal Surabaya. Pedagogi: Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 89–102. https://doi.org/10.30651/pedagogi.v4i2.1965
  13. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. , Pub. L. No. 16 (2019).
  14. Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
  15. Sipayung, H. (2010). Mertua vs Menantu: Trik Ampuh Membina Hubungan Baik Antara Menantu dan Mertua. Jakarta: PT ElexMedia Komputindo Kelompok Gramedia.
  16. Walgito, B. (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.