Main Article Content

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Teluk Jering Kecamatan Tambang, Riau. Masyarakat di lokasi pengabdian memiliki potensi peternakan dan pertanian. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan oleh mitra adalah memanfaatkan urin ternak menjadi pupuk cair. Permasalahan mitra adalah belum optimalnya penyediaan pupuk secara mandiri, selain itu mitra belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk mengolah urin ternak menjadi pupuk cair. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan kepada gapoktan dengan tujuan kegiatan peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam pengolahan urin ternak menjadi pupuk cair, serta memberi penyadaran kepada masyarakat untuk peduli kepada lingkungan. Metode kegiatan yang diberikan kepada masyarakat adalah, penyadaran, penyuluhan, demonstrasi, dan evaluasi. Urin ternak selain dapat dijadikan pupuk cair sekaligus untuk membersihkan lingkungan, memberikan solusi dalam masalah pemenuhan kebutuhan pupuk, serta mengurangi pengeluaran petani untuk membeli pupuk, serta meminimalkan pemakaian pupuk kimia. Setelah dilakukan pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan peserta 83,33%. Lingkungan jadi bersih dan tidak terbuang urin ternak.

Keywords

Urin ternak Pupuk organik cair Lingkungan

Article Details

How to Cite
Siswati, L., Ariyanto, A., Lestari, S., Setiawan, D., & Yandra, A. (2021). Manfaatkan Urin Sapi Menjadi Pupuk Organik Cair di Desa Teluk Jering Kecamatan Tambang. Community Empowerment, 6(2), 291-296. https://doi.org/10.31603/ce.4484

References

  1. Amilla, Y. 2011. Penggunaan Pupuk Organik Cair Untuk Mengurangi Dosis Penggunaan Pupuk Anorganik pada Padi Sawah (Oryza Saliva L.), Laporan Penelitian, Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fak. Pertanian, IPB, Bogor.
  2. Hamidah ,Mardalena,Abdul Rofiq. 2017. Penyuluhan Pertanian“Pemanfaatan Urine Ternak sebagai Pupuk Cair dan Zat Pengatur Tumbuh. jurnal Abdimas Mahakam . Juni 2017, Vol.1 No. 2
  3. Rahayu. 2010. Penggunaan Kotoran Ternak Sapi Sebagai Sumber Energi Alternatif Ramah Lingkungan beserta Aspek Sosiokulturnya. Inotek, Volume 13. No 2, Cirebon. Bogor.
  4. Sarwono. 2011. Peraturan Menteri Pertanian No.70/Permentan /SR.140/10/2011. Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah
  5. Siswati, L.2013. Pengembangan Pertanian Terpadu Hortikultura dan Ternak Model Zero Waste untuk Meningkatkan Pendapatan Petani.jurnal ilmiah Pertanian Vol.II.no1.Agustus 2013. Hal; 9-15.
  6. Siswati, L., Ningsih, A. T. R., & Jeniwardi, J. 2019. Pengolahan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos Di Kelurahan Labuh Baru Timur Pekanbaru. Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR), 2, 660-665.
  7. Suhastyo, A. A., Agroteknologi, P. S., Banjarnegara, P., & Tengah, J. 2017. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos. J.Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 1(2).
  8. Suprapto PK, Ali M, Nuryadin E. 2017. Program Pengenalan dan Sosialisasi Penerapan Teknologi Olah Sampah Organik Rumah Tangga (OSAMA) di Kampung Jati Kabupaten Ciamis. Jurnal Pengabdian Siliwangi. Vol 3 no 1.
  9. Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya Kompos. J. Kesehatan Lingkungan, 2(1), 77–85.
  10. Sudiarto, B. 2008. Pengelolaan Limbah Peternakan Terpadu dan Agribisnis yang Berwawasan Lingkungan, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner , Bandung. 52-60.
  11. Widjayanto, D.W., and Miyauchi, N. 2003. Organic Farming and its Prospect in Indonesia. Bull. Fac. Agric . Kagoshima Univ. 52: 57 - 62