Optimalisasi Self Monitoring Blood Glucose Pasien Diabetes Melitus dalam Melakukan Deteksi Episode Hipoglikemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Magelang

Main Article Content

Robiul Fitri Sigit Priyanto

Abstract

Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit sillent Killer yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan kegagalan sekresi insulin. sehingga untuk mempertahankan glukosa darah yang stabil membutuhkan terapi insulin. Terapi insulin sering menimbulkan dampak berupa hipoglikemia yang disebabkan ketidakadekuatan pemberian insulin yang cenderung berlebihan atau bahkan terjadinya kegagalan mekanisme akibat proses penyakit DM yang telah berlangsung lama.Tujuan penelitian: Hubungan ketersediaan alat pengukur glukosa darah (glukometer) dengan kemampuan deteksi episode hipoglikemia. Metodologi penelitian: Metode penelitian meliputi desain penelitian, populasi dan sampel, tempat penelitian dan waktu penelitian, pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas instrumen, etika penelitian dan analisa data. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross setional yaitu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan dan selanjutnya menjelaskan suatu keadaan tersebut melalui pengumpulan datau pengukuran variabel korelasi yang terjadi pada objek penelitian secara simultan atau dalam wkatu yang bersamaan. Hasil Penelitian: hasil analisis uunivariat menjelsakan bahwa variabel usia menunjukkan rata-rata usi responden 62 tahun dan standar deviai 12,48 dengan Ci 95% yaitu 57,87-67,03, rata-rata durasi lamanya menderita diabetes melitus 5 tahun, dengan standar deviasi 3,03 dan rata-rata skor dalam menjawab kuesioner pengetahuan sebesar 12.30 dan rerata kemmapuan dalam deteksi hipoglikemia adalah 11,73. Kesimpulan: faktor-faktro yang berhubungan dengan kemmapuan deteksi episode hipoglikemia adalah pengetahuan, usia, lama mendertia diabetes.


 


Latar belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit sillent Killer yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan kegagalan sekresi insulin. sehingga untuk mempertahankan glukosa darah yang stabil membutuhkan terapi insulin. Terapi insulin sering menimbulkan dampak berupa hipoglikemia yang disebabkan ketidakadekuatan pemberian insulin yang cenderung berlebihan atau bahkan terjadinya kegagalan mekanisme akibat proses penyakit DM yang telah berlangsung lama.Tujuan penelitian: Hubungan ketersediaan alat pengukur glukosa darah (glukometer) dengan kemampuan deteksi episode hipoglikemia. Metodologi penelitian: Metode penelitian meliputi desain penelitian, populasi dan sampel, tempat penelitian dan waktu penelitian, pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas instrumen, etika penelitian dan analisa data. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross setional yaitu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan dan selanjutnya menjelaskan suatu keadaan tersebut melalui pengumpulan datau pengukuran variabel korelasi yang terjadi pada objek penelitian secara simultan atau dalam wkatu yang bersamaan. Hasil Penelitian: hasil analisis uunivariat menjelsakan bahwa variabel usia menunjukkan rata-rata usi responden 62 tahun dan standar deviai 12,48 dengan Ci 95% yaitu 57,87-67,03, rata-rata durasi lamanya menderita diabetes melitus 5 tahun, dengan standar deviasi 3,03 dan rata-rata skor dalam menjawab kuesioner pengetahuan sebesar 12.30 dan rerata kemmapuan dalam deteksi hipoglikemia adalah 11,73. Kesimpulan: faktor-faktro yang berhubungan dengan kemmapuan deteksi episode hipoglikemia adalah pengetahuan, usia, lama mendertia diabetes.


 

Article Details

How to Cite
FITRI, Robiul; PRIYANTO, Sigit. Optimalisasi Self Monitoring Blood Glucose Pasien Diabetes Melitus dalam Melakukan Deteksi Episode Hipoglikemia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Magelang. URECOL, [S.l.], p. 73-82, sep. 2017. Available at: <http://journal.ummgl.ac.id/index.php/urecol/article/view/1316>. Date accessed: 17 dec. 2017.
Section
Articles